SURABAYA, RBNasional.com — Transformasi layanan dan fasilitas Rumah Sakit Menur Surabaya mendapat apresiasi Anggota DPD RI, Lia Istifhama. Rumah sakit milik Pemprov Jawa Timur ini dinilai berhasil beralih dari stigma layanan kesehatan jiwa semata menjadi pusat layanan kesehatan yang lebih komprehensif dan inklusif.
Apresiasi tersebut disampaikan Lia Istifhama saat meninjau langsung sejumlah fasilitas dan layanan baru di RS Menur. Ia menilai perubahan signifikan terjadi dalam beberapa tahun terakhir, baik dari sisi infrastruktur, jenis layanan, hingga pendekatan pelayanan terhadap pasien.
“RS Menur kini tidak hanya dikenal sebagai rumah sakit kesehatan jiwa, tetapi sudah berkembang menjadi rumah sakit dengan layanan kesehatan umum, tumbuh kembang anak, remaja, hingga rehabilitasi medis,” ujar Lia Istifhama, Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Kamis (15/1).
Menurut Lia, transformasi tersebut sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur di bawah kepemimpinan Gubernur Khofifah Indar Parawansa yang mendorong penguatan fasilitas kesehatan daerah agar adaptif terhadap tantangan kesehatan masyarakat.
Selain perluasan layanan, Lia juga menyoroti capaian medis RS Menur, termasuk keberhasilan persalinan bayi kembar. Ia menilai capaian tersebut mencerminkan peningkatan kualitas sumber daya manusia tenaga kesehatan.
“Keberhasilan ini menunjukkan bahwa modernisasi fasilitas diikuti dengan profesionalisme tenaga medis,” kata Lia.
Dari sisi pelayanan, Direktur RSJ Menur Surabaya, Fitria Dewi, menyampaikan bahwa transformasi berdampak langsung pada peningkatan kunjungan pasien. Sepanjang 2025, kunjungan IGD mencapai 9.272 pasien, naik dari 7.543 kunjungan pada 2024.
Kunjungan rawat jalan juga meningkat dari 62.167 menjadi 77.920 pasien. Sementara rawat inap jiwa naik dari 6.211 menjadi 6.908 pasien, dan rawat inap non-jiwa melonjak dari 413 menjadi 1.013 pasien.
“Data ini menunjukkan RS Menur mulai menjadi rujukan yang lebih luas, tidak hanya untuk layanan kesehatan jiwa,” jelas Fitria Dewi.
Indikator efisiensi turut menunjukkan tren positif. Average Length of Stay (ALOS) turun dari 22,29 hari pada 2022 menjadi 15,13 hari pada 2025. ALOS jiwa tercatat 15,11 hari, sedangkan non-jiwa 3,40 hari.
Bed Occupancy Rate (BOR) juga meningkat konsisten hingga mencapai 80,42 persen pada 2025, masuk kategori ideal karena mencerminkan pemanfaatan tempat tidur yang optimal.
Lia Istifhama menilai peningkatan fasilitas kesehatan jiwa memiliki dampak sosial penting. Akses layanan yang lebih manusiawi dinilai dapat mengurangi stigma masyarakat terhadap kesehatan mental.
“Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Ketika fasilitasnya nyaman dan inklusif, masyarakat tidak lagi takut untuk berobat,” ujarnya.
Transformasi RS Menur Surabaya menandai penguatan layanan kesehatan daerah yang lebih adaptif, efisien, dan inklusif. Ke depan, model pengembangan ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi rumah sakit daerah lain dalam menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat yang kian kompleks.












